Kamis, 04 Maret 2021

Kata Pengantar Buku The Power of Blogger Teacher

 KATA PENGANTAR

Wijaya Kusumah, M.Pd. (Om Jay)

Guru Blogger Indonesia

Bulan Pebruari 2021 adalah bulan diadakannya Lomba Menulis PGRI, dengan tema “ Menulis di Blog Jadi Buku”, pesertanya adalah para Guru anggota PGRI. Menulis selama 28 hari di bulan Pebruari, para peserta harus menulis dan memposting tulisannya di blog pribadi dan juga di website https://terbitkanbukugratis.id  milik YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan)  yang ada d Jakarta.

Melihat antusias ratusan peserta lomba blog, saya merasa bangga. Hal ini pertanda akan ada banyak guru penulis  dan menerbitkan bukunya, salah satunya Bapak Etik Nurinto, seorang guru blogger yang konsisten dan tekun menulis. Untuk bisa menjadi penulis buku memang membutuhkan ketekunan dan konsistensi menulis setiap hari. Ibarat makan dan minum yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Buku “The Power of Blogger Teacher” ini adalah hasil sebuah konsistensi menulis setiap hari di blog, kumpulan artikel-artikel menarik dan ulasan penuh wawasan, informatif dan inspirastif tentang dunia menulis, dunia blogger, dan dunia guru semua terkumpul menjadi satu menjelma menjadi sebuah karya buku yang enak dan renyah untuk dibaca. kekuatan seorang guru blogger sangat terasa ketika saya membaca buku ini.

Membaca habis buku “The Power of Blogger Teacher” ini terasa membangkitkan sebuah kekuatan atau power untuk terus semangat menulis, bergerak dan berkarya. Power dari seorang guru blogger yang menggerakkan dengan tulisan, karena dengan tulisan akan ada keajaiban yang terjadi. Seperti buku saya yang menjadi best seller “Menulislah Setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi”. Saya sudah membuktikannya, ada banyak manfaat dan keajaiban dari menulis setiap hari.

Buku The Power of Blogger Teacher ini menyuguhkan bermacam kiat-kiat, teknik dan tips jitu  menjadi penulis buku, menjadi blogger dan menjadi Guru. Guru yang betulan bukan guru kebetulan, guru yang dirindukan, guru yang menggerakkan dan guru yang memotivasi dan menginspirasi. Melalui ulasan yang membawa pesan moral diselingi dengan Quotes yang memotivasi dan menginspirasi mampu menggerakkan hati dan pikiran pembaca. Sangat cocok apabila pembaca memiliki buku ini. apalagi bila ingin menjadi seorang guru blogger.

Dengan lahirnya buku The Power of Blogger Teacher ini menjadi bukti Bapak Etik atas  ketekunannya menulis di blog setiap hari. Menulis di blog setiap hari menjelma menjadi buku. Buku adalah mahkota penulis dan Bapak Etik telah mendapatkan mahkotanya. Saya ucapkan selamat, semoga bermanfaat bagi pembaca dan memantik semangat untuk terus berkarya. Rahasia kekuatan seorang guru blogger ada padatulisannya.

 

Salam Blogger Persahabatan

Wijaya Kusumah (Om Jay)

Guru Blogger Indonesia

Blog http://wijayalabs.com

https://www.gurupenggerakindonesia.com/kekuatan-seorang-guru-blogger/



Rabu, 03 Maret 2021

5 Langkah Membuat Judul Buku yang Menarik

 

Apakah anda sempat bingung membuat Judul buku yang akan dibuat ? Sudah mencoba memikirkan tetapi belum ada Kata dan kalimat yang tepat ?

Buku adalah Mahkota penulis, judul buku adalah berliannya. Mahkota tanpa berlian terasa kurang indah dan kurang menarik untuk dipandang. Judul buku juga merupakan ruhnya sebuah buku. Membuat judul memang perlu kiat khusus agar judul buku lebih menarik.

Masing-masing penulis punya cara yang berbeda-beda dalam menentukan judul buku yang ditulisnya. Ada yang ditulis sebelum penulis menuliskan isi bukunya dengan tujuan agar isi tulisan lebih terarah sesuai dengan judul yang ditentukan. Ada juga yang menentukan judul setelah semua tulisan selesai. Sehingga judul yang dibuat merupakan intisari , menggambarkan isi buku secara utuh dan merupakan ruhnya sebuah buku.

Judul buku juga sangat berperan penting dalam laku tidaknya sebuah buku. Maka ketika membuat judul buku buatlah semenarik mungkin. Hal ini mempengaruhi minat calon pembeli. Menurut  riset yang dilakukan penerbit di Amerika Serikat bahwa yang dilihat pertama kali oleh pembeli adalah judul buku yang menarik.

Kriteria menarik sebenarnya relatif, sebab calon pembeli mempunyai kepentingan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Kriteria menarik suatu judul buku pun dapat berbeda-beda setiap orangnya. Dengan kata lain, bergantung pada selera masing-masing.

Namun demikian, ada beberapa kriteria judul buku yang menarik secara umum antara lain:

Membuat penasaran

Mudah diingat

Menjanjikan manfaat

Menyatakan isi buku

Untuk membuat judul buku yang menarik, bisa dicoba langkah-langkah berikut ini

 

  1. Tentukan Topik Buku

Langkah pertama membuat judul buku yang menarik adalah dengan menentukan topik buku. Misalnya kita akan menulis buku tentang Novel,maka kita bisa membuat judul : Cara Menulis Novel

  1. Buatlah Judul Lebih Spesifik

Langkah kedua adalah membuat judul agar lebih spesifik. Pada langkah  pertama judul yang dibuat masih bersifat umum atau cakupannya luas, maka kita buat lebih spesifik lagi mempertimbangkan output atau target pembaca. Kita harus mempertimbangkan siapa yang akan menjadi target pembaca buku kita. Maka buatlah judul menjadi spesifik lagi . Misalnya :

Cara Menulis Novel dalam 30 Hari (targetnya waktu)

Cara Menulis Novel Remaja (targetnya para remaja)

17 Kiat Menulis Novel (target pembaca umum pemula)

  1. Tambahkan Power Word

Power word adalah kata-kata yang memicu ketertarikan atau emosi seseorang. Dalam membuat Power word kita bisa menggunakan beberapa pilihan yaitu bisa kata benda, kata sifat dan kata kerja. Ada banyak power word yang bisa digunakan bisa menggunakan bahasa Indonesia atau bisa juga menggunakan bahasa Inggris. Contoh Power word :

Kata Benda : Trik, Rahasia, keajaiban, kekuatan

Kata Sifat : mudah, sederhana, jitu, ampuh, gratis, cepat, cespleng, penting

Kat kerja : mendongkrak, melipatgandakan, melejitkan, menyingkap

Judul yang bisa kita buat misalnya :

Cara Mudah Menulis Novel dalam 30 Hari

Cara Mudah Menulis Novel Remaja

17 Kiat Jitu Menulis Novel Pertama Anda

  1. Buat Judul yang Unik

Langkah selanjutnya adalah membuat judul buku menjadi lebih unik. Kita bisa membuat format judul utama dan sub judul. Judul utama adalah judul yang mudah diingat menjadi brand buku yang kita buat. Sedangkan sub judul menerangkan isi atau manfaat buku secara jelas

Misalnya :

Your First Book : 17 Kiat Jitu Menulis Novel Pertama Anda

Wujudkan Buku Keren Anda : 17 Kiat Jitu Menulis Novel Pertama Anda

The Best of Book : 17 Kiat Jitu Menulis Novel Pertama Anda

  1. Minta Saran Teman

Langkah terakhir adalah meminta saran teman untuk memilih judul yang kita buat. Hal ini untuk mengetahui ketertarikan teman akan judul buku yang kita buat Kita bisa menggunakan poling lewat Group WA, FB,Instagram dan lain-lain . hitung-hitung survey target pembaca sejauh mana ketertarikan mereka akan judul buku yang kita buat.

Nah itulah 5 Langkah mudah membuat judul buku yang menarik. Semoga bermanfaat. Selamat mencoba !

Minggu, 28 Februari 2021

Menulis di Blog Menjadi Buku

 

Ada banyak alasan seseorang  membuat blog. Ada yang bertujuan hanya karena hobi dan berekspresi, ada juga yang bertujuan  untuk  menyampaikan informasi , bahkan ada juga yang bertujuan untuk mendapatkan uang.

Blog adalah salah satu media yang dapat kita gunakan untuk mempublis tulisan kita. Tulisan ini banyak variasinya. Tentunya tergantung ide apa yang kita tulis sebagai blogger. Baik tulisan fiksi maupun non fiksi. Kadang menulis informasi atau sekedar menulis story. Tapi Pernahkah terpikirkan kalau tulisan kita di blog bisa kita jadikan buku yang menarik ? bahkan bisa jadi diminati banyak orang dan laku untuk dijual.

Terkadang untuk membuat sebuah buku kita terbayang betapa tebal atau banyak halaman dari buku yang harus kita buat. Belum lagi ditambah dengan tata bahasa yang terkadang tidak kita kuasai, terutama bahasa Ilmiah.  Mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Memang dalam menulis buku banyak hal yang harus kita lakukan, namun Jika anda menulisnya dengan sangat baik dan dengan gaya bahasa yang enak dan mudah dipahami, apalagi ada banyak referensi dan pendapat pakar di dalamnya maka bukan tidak mungkin naskah yang kita buat layak menjadi buku dan diterima oleh penerbit.

Terlepas dari isi naskah buku , Ada beberapa langkah agar tulisan kita bisa layak menjadi buku yang baik dan berkualitas

  1. Sistematika dan Struktur Penulisan

Sistematika isi dari naskah buku ditulis secara terstruktur mulai dari hal yang mendasar, sejarah, metode dan pembahasan pada setiap Bab dan Sub Bab. Dengan sistematika yang baik maka pembaca akan senang dengan produk buku kita.

  1. Kelengkapan Pembahasan Buku

Ini juga terkadang kurang diperhatikan penulis , terutama penulis pemula. Padahal naskah yang baik adalah yang lengkap sesuai dengan judul atau Bab yang dibahas. Misal kita menyebutkan dalam Bab “ 7 Langkah membuat Blog” dalam ulasan ternyata baru membahas 6 langkah saja. Nah hal ini perlu diperhatikan agar semua dijelaskan dengan lengkap sesuai Bab

  1. Perhatikan Gaya Penulisan

Gunakan bahasa yang mudah dipahami. Jika pembaca adalah kalangan umum maka jangan gunakan bahasa yang terlalu tinggi dan sulit untuk dimengerti. Kecuali jika sasaran pembaca adalah para mahasiswa dan akademisi. Jika pembaca adalah kalangan muda maka sebaiknya sesuaikan kata-kata dan cara penyampainnya sesuai dengan dunia mereka yang lagi trend.

  1. Buku harus memenuhi syarat penerbit.

Ada banyak standar yang disyaratkan oleh penerbit baik penerbit Indie maupun penerbit mayor. Tiap penerbit terkadang berbeda dalam menentukan persyaratan penerbitan buku. Namun secara umum syaratnya adalah

  1. Ditulis dengan font yang mudah dibaca, misal : Times New Roman, Arial, Open Sans dan Font yang sering dipakai dalam buku
  2. Jarak spasi biasanya 1 atau 1, 5
  3. Margin Normal biasanya 2, 5 Cm
  4. Minimal jumlah halaman 150 Halaman atau lebih tetapi ada juga penerbit yang menerima minimal 100 halaman saja, namun lebih baik agar dicukupkan sebanyak 150 halaman saja
  5. Lengkapi dengan Referensi yang cukup
  6. Disertai Daftar Pustaka
  7. Biodata penulis ditulis dengan narasi yang menarik bisa dilengkapi dengan prestasi yang pernah diraih agar pembaca lebih tertarik

Beberapa langkah di atas merupakan langkah yang bisa dilakukan agar sebuah tulisan layak menjadi buku yang baik. Lepas dari substansinya. Semua jenis tulisan sebenarnya bisa kita jadikan sebuah buku, misalnya kumpulan puisi, kumpulan pantun, kumpulan cerpen, kumpulan cerita mini, bahkan kumpulan story dan memori bisa dijadikan buku. Begitu juga tulisan kita di Blog juga bisa dijadikan sebuah buku yang menarik.

 Kumpulkan tulisan yang diposting di blog dalam satu file word, lalu edit dan  lengkapi dengan kata pengantar, daftar isi, biodata penulis dan sinopsis
 

Menulis di blog menjadi buku, caranya mudah dengan mengumpulkan tulisan yang kita tulis diblog. Jika setiap hari kita menulis minimal 1 sampai 10 lembar, berapa banyak tulisan kita dalam 1 bulan, berapa banyak dalam 1 tahun. Tentunya akan jadi sangat banyak. Nah dari tulisan-tulisan itu bisa kita kumpulkan menjadi satu dan bisa kita jadikan buku. Kumpulkan tulisan yang kita posting di blog dalam 1 file, Kumpulkan dalam satu tema, jika tulisan di blog terdiri dari beberapa tema maka bisa dijadikan buku kumpulan artikel atau bunga rampai, kemudian edit dan lengkapi sesuai dengan aturan  atau tata cara membuat buku agar layak untuk diterbitkan.

Perbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pola kalimat, dan berbagai kesalahan tata bahasa lainnya. Meskipun nanti tulisan kita akan kembali diedit oleh editor di penerbit, seorang penulis tetap harus berusaha menyunting tulisannya.

Langkah berikutnya buatlah Daftar isi sesuai dengan bab dan sub bab isi buku. Biasanya tanpa disertakan halaman. Kemudian buatlah kata pengantar, kata pengantar ini bisa dari penulis, bisa minta kepada ahli, tokoh, pakar, atau penerbit. Sertakan biodata penulis yang dikemas dengan narasi yang menarik berisi biodata, riwayat pendidikan, prestasi yang diraih dan aktivitas medsos dan lainnya. Lengapi juga dengan sinopsis yang merupakan intisari buku. Buatlah dalam 3 paragraf saja

Setelah semua lengkap bisa dikirim ke penerbit. Untuk cover buku bisa  dari penerbit atau bisa juga kita yang membuat covernya. Mengenai biaya tergantung penerbitnya. Jika penerbit indie maka kita sedikit mengeluarkan biaya namun jika penerbit mayor maka kita tidak mengeluarkan biaya sedikitpun, justru akan menerima royalti dari penjualan buku kita.

Tidak usah khawatir dengan penerbitan, banyak sekali penerbit yang menawarkan jasa penerbitan buku mulai dari paket hemat sampai dengan jumlah paket besar. Tergantung kondisi keuangan kita. Yang lebih mudah dan sangat membantu semua kalangan penulis adalah bisa menerbitkan buku gratis melalui web https://terbitkanbukugratis.id Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) Jakarta. Melalui YPTD lah penulis bisa menerbitkan buku secara gratis tanpa biaya.

Nah, mudah bukan ? tidak susah untuk menerbitkan buku, apalagi jika kita secara rutin menulis di Blog.

Blog ibaratkan sebuah tabungan dari tulisan kita. Semakin sering menulis di blog semakin banyak tabungan kita, semakin banyak tabungan kita maka semakin mudah membuat buku karya kita.

Semoga bermanfaat. Salam hangat. Salam Literasi.

Artikel ini diikutkan Lomba Blog PGRI  (tanggal 1 s.d 28 Pebruari 2021)

Nama Penulis :

ETIK NURINTO, S.Pd.SD

NPA PGRI : 12120600251

No. WA : 083134609000

Guru SDN Pabuaran

Kecamatan Bantarbolang

Kabupaten Pemalang

Guru Jangan Gaptek

 


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini begitu cepat, mengharuskan guru dan sekolah ikut beradaptasi dengan cepat pula dengan perubahan tersebut. Hal ini penting agar guru dapat menyampaikan pelajaran sesuai dengan perubahan dan perkembangan jaman.

Dengan banyaknya perubahan yang kini tengah dihadapi dan penggunaan teknologi yang mungkin belum pernah digunakan sebelumnya, sangat wajar jika ada sebagian guru terkadang merasa kewalahan. Apalagi jika guru mengalami gaptek atau gagap teknologi.

Gaptek memiliki arti ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan teknologi modern, seperti komputer. 

Ternyata berdasarkan fakta, banyak para guru di Indonesia yang masih gaptek atau tidak memiliki keterampilan komputer. Apakah pentingnya menguasai keterampilan komputer bagi seorang guru dan bagaimana cara mengatasi guru yang gaptek atau tidak mempunyai keterampilan komputer ?.

Sebagai seorang guru dituntut untuk menguasai keterampilan komputer untuk dapat mengakses informasi yang memudahkan untuk memecahkan masalah dalam berbagai hal dan dapat berguna juga untuk mencari bahan untuk mengajar. Serta mempermudah pekerjaan dan menyelesaikan tugas-tugas administrasi guru serta administrasi pelaporan. Tentunya membutuhkan teknologi komputer.

Di era serba digital ini, para siswa dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dari internet.  Sementara guru, yang kebanyakan hasil didikan konvensional, bisa jadi kesulitan beradaptasi dengan pesat dan masifnya perkembangan teknologi tersebut. Padahal seorang guru harus melek teknologi. Bagaimana jadinya guru  dapat memberi contoh ke anak didiknya jika tidak bisa menguasai teknologi ?

Sebagai guru seharusnya kita tidak kalah pintar dalam bidang tehnologi khususnya komputer. Nah,Bagaimana agar guru tidak gaptek ? berikut yang bisa dilakukan

1.       Ikutilah pelatihan

Agar guru tidak gaptek langkah awal yang harus dilakukan adalah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Lembaga komputer atau bisa juga mengikuti pelatihan yang diprogramkan oleh pemerintah. Kemendikbud telah memberikan program pelatihan Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi TIK para guru berdasarkan standar kompetensi TIK Guru UNESCO.  Bapak ibu giri  bisa mendaftar melalui laman simpatik belajar kemendibud pada salah satu gelombang yang tersedia

Melalui pelatihan tersebut diharapkan guru dapat mengoprasikan program-program sederhana seperti Microsoft office untuk memudahkan pekerjaan guru dan juga keterampilan mengunakan internet untuk memperoleh berbagai informasi khususnya sebagai bahan untuk memperlancar proses belajar mengajar.

2.       Sering Latihan di Rumah

Langkah selanjutnya adalah berlatih mandiri, tanpa latihan maka akan susah menguasai sebuah teknologi. Jangan mudah menyerah. Ibarat siswa diberi PR maka guru pun harus bisa menyelesaikan PR yaitu berlatih komputer. Biasanya ada sebagian guru yang berusia tua yang enggan berlatih komputer dengan alasan “ sudah tua” atau “tidak bisa” padahal itu hanya alasan dari sebuah jawaban atas sebuah kemalasan.

“Kemampuan itu soal jam terbang, tidak ada keahlian tanpa diawali dengan ketekunan dan kegigihan dalam latihan” ( Etik Nurinto)

3.       Jangan Segan Bertanya

Ada pepatah mengatakan : “malu bertanya sesat dijalan” ,Maka jika kita belum tau dan malu bertanya tentang dunia komputer maka akan sesat dalam menjalankan artinya tidak bisa menguasainya teknologi komputer. Jangan segan bertanya pada teman yang bisa mengoperasikan walaupun usia kita lebih tua misalnya. Dengan bertanya tidak akan membuat kita lebih rendah, justru dengan sering bertanya kita akan menjadi tau apa yang sebelumnya kita tidak mengetahuinya, semakin bertanya bisa menambah ilmu.

4.       Mencari tau aplikasi masa kini

Dunia sekarang ini seakan dikuasai oleh aplikasi, banyak aplikasi –aplikasi yang dibuat oleh para ahli dibidangnya. Termasuk aplikasi pembelajaran. Seorang guru harus bisa menguasasi aplikasi –aplikasi yang dibutuhkan. Terutama aplikasi untuk pembelajaran. Dengan menguasai aplikasi maka guru dianggap selangkah lebih tau dibandingkan Siswa. Karena siswa pun bisa menguasai aplikasi dengan mudah.

5.       Meningkatkan Kualitas dan Kompetensi

Kualitas dan kompetensi menjadi kunci utama untuk memberikan pembelajaran.  Seorang guru harus terus meningkatkan kualitas dan kompetensi dirinya untuk dapat mengimbangi perkembangan teknologi.  Hal yang bisa dilakukan contohnya mengikuti diklat  atau webinar yang sekarang  marak dilakukan secara online. Ikuti webinar yang mendukung kompetensi  guru. Kita akan semakin bertambah kualitas dan kompetensi dengan seringnya mengikuti pelatihan atau webinar. Karena banyak ilmu teknologi yang bisa kita dapatkan secara tidak langsung dari mengikuti pelatihan online. Misalnya mengerti tentang aplikasi zoom , google meet, lark meet, dan lain sebagainya yang biasa digunakan untuk pelaksanaan pelatihan online.

Penguasaan teknologi informasi sangatlah penting, bukan berarti guru dan sekolah menjadikan teknologi sebagai tujuan utama namun teknologi adalah  alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Nah, Itulan cara bagaimana agar guru tidak gaptek. Begitu pentingnya menguasai teknologi sekarang ini. Jangan jadikan faktor usia tua menjadi alasan untuk tidak menguasai teknologi. Para guru tidak boleh gaptek atau gagap teknologi. Kuasai dan manfaatkan teknologi sebagai alat seorang guru dalam melakukan pembelajaran dan menuntaskan tugas dan pekerjaan.

 

Salam Hebat, salam Literasi

Artikel ini diikutkan Lomba Blog PGRI  (tanggal 1 s.d 28 Pebruari 2021)

Nama Penulis :

ETIK NURINTO, S.Pd.SD

NPA PGRI : 12120600251

No. WA : 083134609000

Guru SDN Pabuaran

Kecamatan Bantarbolang

Kabupaten Pemalang

Generasi Corona

 


Wabah Covid-19 masih melanda dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya persoalan kesehatan, pandemi covid 19 menimbulkan berbagai fenomena sosial. Sejak pemerintah pertama kali mengumumkan Covid-19 pada  Maret 2020, panic buying melanda.

Di bidang pendidikan, berulang kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menekankan kesehatan dan keselamatan siswa adalah yang utama. Pembukaan sekolah hanya diizinkan untuk wilayah zona hijau,itu berarti hanya sekian persen saja wilayah sekolah di Indonesia yang berstatus sebagai zona hijau. Sedangkan untuk wilayah zona kuning dan merah, sekolah masih harus dijalankan dengan jarak jauh.

Lamanya sistem pembelajaran jarak jauh ini tergantung pada perubahan status wilayah. Jika di suatu daerah bisa meningkatkan zona aman dari kuning ke hijau sekolah bisa dimulai kembali. Begitu juga sebaliknya, jika suatu wilayah berstatus zona hijau kemudian meningkat ke zona kuning atau merah, sekolah harus tutup kembali. Tuntutan pembelajaran jarak jauh jadi terasa akan lebih lama. Keterbatasan-keterbatasan fasilitas hingga sempitnya kondisi finansial sebagian besar kepala keluarga bisa menjadi kendala untuk berjalannya pembelajaran jarak jauh.

Berbagai persoalan yang terjadi saat pandemi ini memperlihatkan bahwa pemerintah perlu mengkaji kembali strategi mitigasi yang tepat. Khususnya dalam dunia pendidikan. Pembelajaran Jarak jauh memang menjadi alternatif agar laju  pendidikan tetap berjalan.Walau sebagian menganggap efektif, namun disatu sisi kebijakan PJJ tentu mempunyai dampak baik dampak positif maupun negatif.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via daring (online) adalah cara belajar yang tidak ideal. Ada risiko besar yang berbahaya bagi anak-anak , ada risiko krisis pembelajaran, lost learning  dan lost generation. Soal pembelajaran jarak jauh, risiko terbesarnya adalah anak-anak akan keteteran atau tertinggal belajar. Belum lagi dampak negatif dari sebuah teknologi, itu juga menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan, karena bisa berdampak buruk bagi siswa. Bukan hanya satu atau dua anak saja yang terkena dampaknya, tapi satu generasi. Yah generasi Corona.

Generasi corona adalah generasi yang terbentuk oleh masa darurat corona, generasi pelajar yang harus mengalami keberhentian aktivitas belajar di sekolah dalam jangka waktu yang lama. Generasi dimana guru dan siswa belajar tanpa tatap muka dan hanya berjumpa dalam dunia maya.

Pemerintah terkadang dianggap serba salah. Membuka sekolah saat belum tepat dianggap salah. Menutup sekolah terlampau lama juga salah. Hal ini perlu kita sadari bersama. Mencari solusi bersama dan menghadapi masa pandemi secara bersama-sama. Agar generasi corona tetaplah menjadi generasi yang tetap belajar tanpa kehilangan pengetahuan dan keterampilan. Generasi yang siap menghadapi masa depan dengan perubahan.

Dibutuhkan kolaborasi yang baik antara pemerintah, guru, siswa dan dukungan yang baik dari orang tua dalam mengatasi permasalahan pembelajaran masa pandemi ini. Berbagai kebijakan pemerintah termasuk sistem Belajar Dari Rumah (BDR) seharusnya bisa menjadi alternatif solusi agar para orang tua menyadari bahwa pendidikan utama untuk anak berasal dari keluarga, dari rumah, dari orang tua. Para guru juga harus terus memupuk rasa semangat belajar siswa. Memberikan inovasi dalam pembelajaran agar tidak membosankan.Pemerintah juga harus mengkaji kebijakan dan melakukan strategi dalam persiapan pembelajaran tatap muka yang sangat diharapkan oleh guru, siswa dan orang tua.Harapan agar anak-anak bisa bergerak ke depan menumbuhkan mimpi-mimpi baru dan mewujudkannya menjadi nyata.

Generasi Corona adalah generasi yang kelak menghadapi tantangan hidup yang bisa jadi lebih besar. Mereka dihadapkan dengan adaptasi lingkungan dengan aturan-aturan baru. Mereka harus belajar dalam perubahan, mempunyai bekal serta kemampuan mengahadapi berbagai kesulitan kehidupan dalam laju perkembangan jaman.

Semoga tidak hanya para guru dan orang tua, namun semua pihak ikut andil dalam mempersiapkan generasi emas masa depan anak bangsa.

Salam hangat. Salam Literasi

Artikel ini diikutkan Lomba Blog PGRI  (tanggal 1 s.d 28 Pebruari 2021)

Nama Penulis :

ETIK NURINTO, S.Pd.SD

NPA PGRI : 12120600251

No. WA : 083134609000

Guru SDN Pabuaran

Kecamatan Bantarbolang

Kabupaten Pemalang


Cara Membuat Modul Yang Baik dan Menarik

 


Menjawab tantangan pembelajaran sekarang ini. Ketika pandemi covid 19 belum juga lenyap dari muka bumi. Terkait proses pembelajaran masih menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) , menggunakan teknologi secara online dalam jaringan atau daring. Bagaimana dengan pembelajaran luring (luar jaringan) ? Apakah belajar daring tidak butuh buku ?

Justru buku dibutuhkan saat-saat seperti ini, masa Belajar Dari Rumah (BDR) tentunya siswa dituntut untuk bisa belajar dan membelajarkan dirinya secara aktif mandiri dibantu oleh orang tua di rumah. Siswa tidak hanya dibekali dengan HP android untuk mengakses internet tetapi juga Buku sebagai Bahan untuk belajar yang sistematik agar bisa digunakan oleh siswa secara mandiri di rumah. Nah, bahan ajar ini kita bisa menggunakan modul.

Modul sangat dibutuhkan terutama bagi sekolah, dalam hal ini guru dan siswa yang tinggal di daerah limit akses internet. Yang kecil kemungkinan tidak bisa melaksanakan  pembelajaran secara daring atau online. Maka modul bisa dibuat oleh guru dan bisa digunakan oleh siswa belajar dari rumah. Bagaimana cara membuat modul yang baik dan menarik? Alangkah baiknya simak ulasan berikut ini !

Pengertian Modul

Modul ialah bahan belajar yang dirancang secara sistematik berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu (Purwanto (2007: 9)

Tujuan modul agar peserta dapat menguasai kompetensi yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Fungsinya sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didik.

Perbedaan Modul dengan Buku Teks

Ada beberapa perbedaan antara modul dan buku teks. Modul dirancang dengan sistem pembelajaran mandiri, secara sistematis, megandung tujuan atau evaluasi, disajikan secara komunikatif dua arah, dapat mengganti beberapa peran pengajar karena cakupan bahasan terfokus dan terukur serta mementingkan aktifitas belajar siswa. Sedangkan buku teks untuk keperluan umum atau tatap muka, bukan merupakan bahan belajar yang terprogram, lebih menyajikan materi ajar, cenderung informatif, hanya searah, menekankan fungsi kajian materi, cakupan materi buku teks lebih luas atau umum dan pembaca cenderung pasif.

Bagian –bagian Modul

Bagian-bagian sebuah modul yang lengkap terdiri dari :

  1. Sampul
  2. Topik atau materi belajar
  3. Pendahuluan
  4. Kompetensi dasar
  5. Kemampuan akhir yang diharapkan
  6. Kegiatan belajar (1, 2, 3) meliputi (a) uraian dan contoh, (b) latihan ,(c) rangkuman (d) tes formatif dan (e) Umpan balik dan tindak lanjut
  7. Kunci jawaban
  8. Daftar pustaka

Dari bagian-bagian tersebut di atas, ada yang tidak boleh dihilangkan atau menjadi syarat minimal sebuah modul yaitu :

  1. Sampul
  2. Kompetensi dasar
  3. Kemampuan akhir yang diharapkan
  4. Kegiatan belajar : Uraian dan contoh, Latihan, Rangkuman
  5. Daftar pustaka

Bagaimana Membuat Modul agar Baik dan Menarik?       

Untuk membuat modul yang menarik kita bisa membuat modul dengan cara :

  1. Buat cover atau sampul depan yang menarik, dengan mengkombinasikan warna, gambar ilustrasi bentuk dan ukuran huruf yang serasi
  2. Pada bagian isi modul tempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna.
  3. Tugas dan latihan dikemas sedemikian rupa sehingga menarik.
  4. Gunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta didik, Gunakan perbandingan huruf yang proporsional antar judul, sub judul dan isi naskah serta hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruh teks, karena dapat membuat proses membaca menjadi sulit.
  5. Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk menambah kontras penampilan modul. Spasi kosong dapat berfungsi untuk menambahkan catatan penting dan memberikan kesempatan jeda kepada peserta didik. Penempatan ruang kosong dapat dilakukan di beberapa tempat seperti ruangan sekitar judul bab dan subbab, batas tepi (marjin)
  6. Gunakan bentuk dan huruf secara konsisten dari halaman ke halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan beberapa cetakan dengan bentuk dan ukuran huruf yang terlalu banyak variasi.
  7. Gunakan jarak spasi konsisten. Jarak antar judul dengan baris pertama, antara judul dengan teks utama. Jarak baris atau spasi yang tidak sama sering dianggap buruk, tidak rapih.
  8. Gunakan tata letak pengetikan yang konsisten, baik pola pengetikan maupun margin atau batas-batas pengetikan
  9. Konsistensi atau taat asas. Semua elemen yang terdapat pada modul baik yang terkait dengan format penulisan, organisasi, bentuk huruf maupun ruang kosong harus konsisten

Nah demikian ulasan singkat mengenai modul dan cara membuat modul yang baik dan menarik. Modul dibuat dengan sistematik mengacu kerangka sesuai pedoman penyusunan modul. Dengan membuat modul yang baik dan menarik maka diharapkan dapat menarik minat baca dan belajar siswa terutama di masa pandemi covid saat ini.

Para guru, sudah saatnya membuat modul bahan ajar untuk membangkitkan semangat belajar.

Semoga bermanfaat . Salam Hebat. Salam Literasi

 

Artikel ini diikutkan Lomba Blog PGRI  (tanggal 1 s.d 28 Pebruari 2021)

Nama Penulis :

ETIK NURINTO, S.Pd.SD

NPA PGRI : 12120600251

No. WA : 083134609000

Guru SDN Pabuaran

Kecamatan Bantarbolang

Kabupaten Pemalang

Jumat, 26 Februari 2021

Guru Sejati Menjadi Guru Sampai Mati

 

Guru, menjadi sosok yang digugu dan ditiru, sosok yang disegani dan dihormati. Menjadi guru tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan namun juga mengajarkan kebaikan dan mencontohkannya dengan sikap perilaku dan keteladanan. Akan tetapi, tidak semua guru itu semuanya baik atau mengajarkan kebaikan dengan hati yang tulus ikhlas. Jikalau kita benar jadi guru lalu apakah sudah menjadi guru yang benar ? Jika kita sejatinya adalah guru , lalu apakah kita sudah menjadi guru sejati ?

Menjadi guru memang betul-betul menjadi sorotan, apalagi kegagalan demi kegagalan dalam pendidikan selalu dikaitkan dengan guru. Pendidikan akan berjalan baik jika gurunya baik. Sebaliknya pendidikan akan hancur jika gurunya tidak baik.

Mirisnya, tidak sedikit guru yang tersandung kasus hukum dan saya sebut oknum. Gambaran guru (oknum guru) dimasa sekarang sangat banyak. Contohnya guru yang sering datang terlambat, mangkir, berkata jorok, merokok di depan murid-murid, dan melakukan pungutan liar, bahkan berbuat yang sangat tidak terpuji seperti korupsi, berzina, memperkosa murid, menggelapkan dana bantuan, dan sebagainya. Dari kasus-kasus tersebut mengandung arti bahwa menjadi guru sejati yang dapat digugu dan ditiru atau teladan memang tidak mudah karena harus konsisten antara hati, ucapan, dan perilaku.

Untuk dapat menemukan guru yang sejati tentunya tidak terlepas dari tugas guru itu sendiri . Secara utuh, lengkap, dan mendalam secara ideal memang tidak akan dapat ditemukan. Namun secara singkat menurut Fakhruddin (2010: 77) tugas guru meliputi tiga hal yaitu tugas profesi, tugas kemanusiaan dan tugas kemasyarakatan.  Walaupun hanya singkat tiga hal namun konsekuensi secara mendalam sangat berat

Siapa sebenarnya Guru Sejati itu?

Tidak ada seorang calon guru yang baru lulus dari perguruan tinggi, lalu sudah menjadi guru sejati. Tidak ada yang lulus progdi keguruan langsung menjadi guru sejati. Semuanya perlu proses dan usaha. Perlu jam terbang, perlu pengalaman dan perlu terus belajar sepanjang hidupnya.

Fakhruddin (2010: 78-95) dalam kajiannya telah memberikan gambaran lima hal penting yang melekat sebagai guru sejati, yaitu: (1) guru adalah orang tua kedua,(2)guru adalah seorang motivator, (3)guru adalah sang petualang, (4)guru, sang pembebas dan pejuang, dan (5) guru, pribadi berjiwa profetik.

Kelima hal tersebut harus melekat dan integral pada diri seorang guru dan sangatlah tepat jika diimplementasikan oleh para guru. Kelima hal tersebut merupakan  urgensi sejatinya guru atau dapat disebut “Guru Sejati”.

1.       Guru adalah Orang Tua Kedua Siswa

Guru sesungguhnya bukan sekedar mengajar saja, akan tetapi guru adalah orang tua kedua bagi siswa di sekolah. Sejatinya menjadi orang tua adalah mendidik siswa seperti anak sendiri. Mengayomi dan mengasuh dengan baik. Membekali anak dengan kebaikan demi masa depan anak nantinya

2.       Guru adalah Seorang Motivator

Guru harus memiliki kemampuan memotivasi siswa, memberi semangat kepada siswa, memberi kekuatan kepada siswa yang lemah, mendorong siswa yang berfikir lambat. Serta mengapresiasi siswa yang berfikir cepat.

3.       Guru adalah Sang Petualang

Guru memiliki tujuan yang panjang untuk terhadap kehidupan anak, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Guru pada dasarnya melakukan perjalanan panjang agar siswa dapat mencapai cita-citanya bukan untuk saat sekarang tetapi berlanjut ke masa depan bahan sampai masa tuanya.

4.       Guru adalah Sang Pembebas dan Pejuang

Guru, Sang Pembebas dan Pejuang Guru mengandung makna dalam semua geraknya adalah untuk melakukan perubahan, agar siswa terbebas dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan sebagainya. Untuk mencapai tujuannya, maka selalu kerja keras, tak kenal lelah, pantang mundur, dan berjuang tiada henti. Banyak Contoh perjuangan guru dalam menegakkan pendidikan. Hal itu melekat pada seorang guru yang berjuang mendidik membebaskan anak bangsa dari berbagai bentuk kebodohan dan ketertinggalan

5.       Guru, Pribadi Berjiwa Profetik

Guru adalah seorang yang mengemban amanah mulia, semua ilmu yang diajarkan dan dipraktikkannya atas dasar tuntunan yang benar dan untuk kebenaran, membawa kebahagian dunia sampai dengan akhirat. Apa yang dilakukan atas kebenaran bisa dikatakan sebagai sikap profetik. Dalam hal profetik tentunya guru dituntut memiliki profesionalitas memenuhi kompetensinya yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Jiwa profetik sejalan dengan profesionalitas

Guru sejati mendidik penuh dengan keteladanan bukan hanya dengan kata-kata. Dia memulai mengajar dirinya sendiri, sebelum mengajar orang lain


Guru sejati dalam melakukan tugas pendidikan sebagai panggilan yang dipercayakan Tuhan kepadanya untuk membantu perkembangan generasi muda. Oleh karena menghayati guru sebagai panggilan hidup. Untuk menjadi Guru sejati perlu proses dan usaha dalam bersikap dan berperilaku. Beberapa hal yang bisa dilakukan guru untuk menjadi sosok guru sejati adalah sebagai berikut :

1.       Bersemangat dalam melakukan tugasnya, ada nyala dalam hati guru

2.       Membantu siswa dengan semangat kasih , bukan semangat uang

3.       Rela berkorban bagi anak didik yang dipercayakan pada guru

4.       Gembira dan bahagia melakukan tugasnya

5.       Membangun hidup keluarga dalam kasih yang mendukung kegembiraan guru dalam mendidik

6.       Mengembangkan diri dan berfikir kritis

7.       Belajar bergaul dan membimbing siswa

8.       Bersikap jujur dan mengembangkan suara hati yang benar

9.       Belajar terus sepanjang hidupnya

 

Kemacetan para guru adalah sudah merasa pandai, berpengalaman, lalu berhenti belajar. Maka sejak itu sebenarnya ia mati sebagai guru sejati. Mengajar diri sendiri dengan keteladanan adalah kunci menjadi guru sejati. Guru Sejati , sejatinya guru mendidik sampai Ia mati. 

(Etik Nurinto, S.Pd.SD)

Salam guru hebat. Salam Literasi

 

Artikel ini diikutkan Lomba Blog PGRI  (tanggal 1 s.d 28 Pebruari 2021)

Nama Penulis :

ETIK NURINTO, S.Pd.SD

NPA PGRI : 12120600251

No. WA : 083134609000

Guru SDN Pabuaran

Kecamatan Bantarbolang

Kabupaten Pemalang

Kata Pengantar Buku The Power of Blogger Teacher

  KATA PENGANTAR Wijaya Kusumah, M.Pd. (Om Jay) Guru Blogger Indonesia Bulan Pebruari 2021 adalah bulan diadakannya Lomba Menulis PGRI, deng...